aku ingin anakku menirumu
Friday, September 7, 2012
ketika lahir, anak lelakiku gelap benar kulitnya, Lalu kubilang pada ayahnya: “Subhanallah, dia benar-benar mirip denganmu ya!”
Suamiku menjawab:
“Bukankah sesuai keinginanmu? Kau yang bilang kalau anak lelaki ingin seperti aku.” Aku mengangguk. Suamiku kembali bekerja seperti biasa. Ketika bayi kecilku
berulang tahun pertama, aku mengusulkan perayaannya dengan mengkhatamkan Al Quran di rumah Lalu kubilang pada suamiku:
“Supaya ia menjadi penghafal Kitabullah ya,Yah.” Suamiku menatap padaku seraya pelan berkata:
“Oh ya. Ide bagus itu.”
Bayi kami itu, kami beri nama Ahmad, mengikuti panggilan Rasulnya. Tidak berapa lama, ia sudah pandai memanggil-manggil kami berdua: Ammaa. Apppaa. Lalu ia menunjuk pada dirinya seraya berkata: Ammat! Maksudnya ia Ahmad. Kami berdua sangat bahagia dengan kehadirannya.
Ahmad tumbuh jadi anak cerdas, persis seperti papanya. Pelajaran matematika sederhana sangat mudah dikuasainya. Ah, papanya memang jago matematika. Ia kebanggaan keluarganya. Sekarang pun sedang S3 di bidang Matematika.
Ketika Ahmad ulang tahun kelima, kami mengundang keluarga. Berdandan rapi kami semua. Tibalah saat Ahmad menjadi bosan dan agak mengesalkan. Tiba-tiba ia minta naik ke punggung papanya. Entah apa yang menyebabkan papanya begitu berang, mungkin menganggap Ahmad sudah sekolah, sudah terlalu besar untuk main kuda-kudaan, atau lantaran banyak tamu dan ia kelelahan. Badan Ahmad terhempas ditolak papanya, wajahnya merah, tangisnya pecah, Muhammad terluka hatinya di hari ulang tahunnya kelima.
Sejak hari itu, Ahamad jadi pendiam. Murung ke sekolah, menyendiri di rumah. Ia tak lagi suka bertanya, dan ia menjadi amat mudah marah. Aku coba mendekati suamiku, dan menyampaikan alasanku. Ia sedang menyelesaikan papernya dan tak mau diganggu oleh urusan seremeh itu, katanya.
Tahun demi tahun berlalu. Tak terasa Ahmad telah selesai S1. Pemuda gagah, pandai dan pendiam telah membawakan aku seorang mantu dan seorang cucu. Ketika lahir, cucuku itu, istrinya berseru sambil tertawa-tawa lucu:
“Subhanallah! Kulitnya gelap, Mas, persis seperti kulitmu!”
Ahmad menoleh dengan kaku, tampak ia tersinggung dan merasa malu.
“Salahmu. Kamu yang ingin sendiri, kan. Kalau lelaki ingin seperti aku!”
Di tanganku, terajut ruang dan waktu. Terasa ada yang pedih di hatiku. Ada yang mencemaskan aku.
Cucuku pulang ke rumah, bulan berlalu. Kami, nenek dan kakeknya, datang bertamu. Ahmad kecil sedang digendong ayahnya. Menangis ia. Tiba-tiba Ahmad anakku menyergah sambil berteriak menghentak,
“Ah, gimana sih, kok nggak dikasih pampers anak ini!” Dengan kasar disorongkannya bayi mungil itu.
Suamiku membaca korannya, tak tergerak oleh suasana. Ahmad, papa bayi ini, segera membersihkan dirinya di kamar mandi. Aku, wanita tua, ruang dan waktu kurajut dalam pedih duka seorang istri dan seorang ibu. Aku tak sanggup lagi menahan gelora di dada ini. Pecahlah tangisku serasa sudah berabad aku menyimpannya. Aku rebut koran di tangan suamiku dan kukatakan padanya:
“Dulu kau hempaskan Ahmad di lantai itu! Ulang tahun ke lima, kau ingat? Kau tolak ia merangkak di punggungmu! Dan ketika aku minta kau perbaiki, kau bilang kau sibuk sekali. Kau dengar? Kau dengar anakmu tadi? Dia tidak suka dipipisi. Dia asing dengan anaknya sendiri!”
Allahumma Shali ala Muhammad. Allahumma Shalli alaihi wassalaam. Aku ingin anakku menirumu, wahai Nabi.
Engkau membopong cucu-cucumu di punggungmu, engkau bermain berkejaran dengan mereka Engkau bahkan menengok seorang anak yang burung peliharaannya mati. Dan engkau pula yang berkata ketika seorang ibu merenggut bayinya dari gendonganmu,
“Bekas najis ini bisa kuseka, tetapi apakah kau bisa menggantikan saraf halus yang putus di kepalanya?”
Aku memandang suamiku yang terpaku.
Aku memandang anakku yang tegak diam bagai karang tajam. Kupandangi keduanya, berlinangan air mata.
Aku tak boleh berputus asa dari Rahmat-Mu, ya Allah, bukankah begitu?
Lalu kuambil tangan suamiku, meski kaku, kubimbing ia mendekat kepada Ahmad. Kubawa tangannya menyisir kepala anaknya, yang berpuluh tahun tak merasakan sentuhan tangan seorang ayah yang didamba.
Dada Ahmad berguncang menerima belaian. Kukatakan di hadapan mereka berdua,
“Lakukanlah ini, permintaan seorang yang akan dijemput ajal yang tak mampu mewariskan apa-apa: kecuali Cinta.
Lakukanlah, demi setiap anak lelaki yang akan lahir dan menurunkan keturunan demi keturunan.
Lakukanlah, untuk sebuah perubahan besar di rumah tangga kita! Juga di permukaan dunia. Tak akan pernah ada perdamaian selama anak laki-laki tak diajarkan rasa kasih dan sayang, ucapan kemesraan, sentuhan dan belaian, bukan hanya pelajaran untuk menjadi jantan seperti yang kalian pahami. Kegagahan tanpa perasaan.
Dua laki-laki dewasa mengambang air di mata mereka.
Dua laki-laki dewasa dan seorang wanita tua terpaku di tempatnya.
Memang tak mudah untuk berubah. Tapi harus dimulai. Aku serahkan bayi Ahmad ke pelukan suamiku. Aku bilang:
“Tak ada kata terlambat untuk mulai, Sayang.”
Dua laki-laki dewasa itu kini belajar kembali. Menggendong bersama, bergantian menggantikan popoknya, pura-pura merancang hari depan si bayi sambil tertawa-tawa berdua, membuka kisah-kisah lama mereka yang penuh kabut rahasia, dan menemukan betapa sesungguhnya di antara keduanya Allah menitipkan perasaan saling membutuhkan yang tak pernah terungkapkan dengan kata, atau sentuhan. Kini tawa mereka memenuhi rongga dadaku yang sesak oleh bahagia, syukur pada-Mu
Ya Allah! Engkaulah penolong satu-satunya ketika semua jalan tampak buntu. Engkaulah cahaya di ujung keputusasaanku.
Tiga laki-laki dalam hidupku aku titipkan mereka di tangan-Mu.
Kelak, jika aku boleh bertemu dengannya, Nabiku, aku ingin sekali berkata:
Ya, Nabi. aku telah mencoba sepenuh daya tenaga untuk mengajak mereka semua menirumu! Amin,
Alhamdulillah
Sumber : Kumpulan cerita Motivasi (resensi.net)
Suamiku menjawab:
“Bukankah sesuai keinginanmu? Kau yang bilang kalau anak lelaki ingin seperti aku.” Aku mengangguk. Suamiku kembali bekerja seperti biasa. Ketika bayi kecilku
berulang tahun pertama, aku mengusulkan perayaannya dengan mengkhatamkan Al Quran di rumah Lalu kubilang pada suamiku:
“Supaya ia menjadi penghafal Kitabullah ya,Yah.” Suamiku menatap padaku seraya pelan berkata:
“Oh ya. Ide bagus itu.”
Bayi kami itu, kami beri nama Ahmad, mengikuti panggilan Rasulnya. Tidak berapa lama, ia sudah pandai memanggil-manggil kami berdua: Ammaa. Apppaa. Lalu ia menunjuk pada dirinya seraya berkata: Ammat! Maksudnya ia Ahmad. Kami berdua sangat bahagia dengan kehadirannya.
Ahmad tumbuh jadi anak cerdas, persis seperti papanya. Pelajaran matematika sederhana sangat mudah dikuasainya. Ah, papanya memang jago matematika. Ia kebanggaan keluarganya. Sekarang pun sedang S3 di bidang Matematika.
Ketika Ahmad ulang tahun kelima, kami mengundang keluarga. Berdandan rapi kami semua. Tibalah saat Ahmad menjadi bosan dan agak mengesalkan. Tiba-tiba ia minta naik ke punggung papanya. Entah apa yang menyebabkan papanya begitu berang, mungkin menganggap Ahmad sudah sekolah, sudah terlalu besar untuk main kuda-kudaan, atau lantaran banyak tamu dan ia kelelahan. Badan Ahmad terhempas ditolak papanya, wajahnya merah, tangisnya pecah, Muhammad terluka hatinya di hari ulang tahunnya kelima.
Sejak hari itu, Ahamad jadi pendiam. Murung ke sekolah, menyendiri di rumah. Ia tak lagi suka bertanya, dan ia menjadi amat mudah marah. Aku coba mendekati suamiku, dan menyampaikan alasanku. Ia sedang menyelesaikan papernya dan tak mau diganggu oleh urusan seremeh itu, katanya.
Tahun demi tahun berlalu. Tak terasa Ahmad telah selesai S1. Pemuda gagah, pandai dan pendiam telah membawakan aku seorang mantu dan seorang cucu. Ketika lahir, cucuku itu, istrinya berseru sambil tertawa-tawa lucu:
“Subhanallah! Kulitnya gelap, Mas, persis seperti kulitmu!”
Ahmad menoleh dengan kaku, tampak ia tersinggung dan merasa malu.
“Salahmu. Kamu yang ingin sendiri, kan. Kalau lelaki ingin seperti aku!”
Di tanganku, terajut ruang dan waktu. Terasa ada yang pedih di hatiku. Ada yang mencemaskan aku.
Cucuku pulang ke rumah, bulan berlalu. Kami, nenek dan kakeknya, datang bertamu. Ahmad kecil sedang digendong ayahnya. Menangis ia. Tiba-tiba Ahmad anakku menyergah sambil berteriak menghentak,
“Ah, gimana sih, kok nggak dikasih pampers anak ini!” Dengan kasar disorongkannya bayi mungil itu.
Suamiku membaca korannya, tak tergerak oleh suasana. Ahmad, papa bayi ini, segera membersihkan dirinya di kamar mandi. Aku, wanita tua, ruang dan waktu kurajut dalam pedih duka seorang istri dan seorang ibu. Aku tak sanggup lagi menahan gelora di dada ini. Pecahlah tangisku serasa sudah berabad aku menyimpannya. Aku rebut koran di tangan suamiku dan kukatakan padanya:
“Dulu kau hempaskan Ahmad di lantai itu! Ulang tahun ke lima, kau ingat? Kau tolak ia merangkak di punggungmu! Dan ketika aku minta kau perbaiki, kau bilang kau sibuk sekali. Kau dengar? Kau dengar anakmu tadi? Dia tidak suka dipipisi. Dia asing dengan anaknya sendiri!”
Allahumma Shali ala Muhammad. Allahumma Shalli alaihi wassalaam. Aku ingin anakku menirumu, wahai Nabi.
Engkau membopong cucu-cucumu di punggungmu, engkau bermain berkejaran dengan mereka Engkau bahkan menengok seorang anak yang burung peliharaannya mati. Dan engkau pula yang berkata ketika seorang ibu merenggut bayinya dari gendonganmu,
“Bekas najis ini bisa kuseka, tetapi apakah kau bisa menggantikan saraf halus yang putus di kepalanya?”
Aku memandang suamiku yang terpaku.
Aku memandang anakku yang tegak diam bagai karang tajam. Kupandangi keduanya, berlinangan air mata.
Aku tak boleh berputus asa dari Rahmat-Mu, ya Allah, bukankah begitu?
Lalu kuambil tangan suamiku, meski kaku, kubimbing ia mendekat kepada Ahmad. Kubawa tangannya menyisir kepala anaknya, yang berpuluh tahun tak merasakan sentuhan tangan seorang ayah yang didamba.
Dada Ahmad berguncang menerima belaian. Kukatakan di hadapan mereka berdua,
“Lakukanlah ini, permintaan seorang yang akan dijemput ajal yang tak mampu mewariskan apa-apa: kecuali Cinta.
Lakukanlah, demi setiap anak lelaki yang akan lahir dan menurunkan keturunan demi keturunan.
Lakukanlah, untuk sebuah perubahan besar di rumah tangga kita! Juga di permukaan dunia. Tak akan pernah ada perdamaian selama anak laki-laki tak diajarkan rasa kasih dan sayang, ucapan kemesraan, sentuhan dan belaian, bukan hanya pelajaran untuk menjadi jantan seperti yang kalian pahami. Kegagahan tanpa perasaan.
Dua laki-laki dewasa mengambang air di mata mereka.
Dua laki-laki dewasa dan seorang wanita tua terpaku di tempatnya.
Memang tak mudah untuk berubah. Tapi harus dimulai. Aku serahkan bayi Ahmad ke pelukan suamiku. Aku bilang:
“Tak ada kata terlambat untuk mulai, Sayang.”
Dua laki-laki dewasa itu kini belajar kembali. Menggendong bersama, bergantian menggantikan popoknya, pura-pura merancang hari depan si bayi sambil tertawa-tawa berdua, membuka kisah-kisah lama mereka yang penuh kabut rahasia, dan menemukan betapa sesungguhnya di antara keduanya Allah menitipkan perasaan saling membutuhkan yang tak pernah terungkapkan dengan kata, atau sentuhan. Kini tawa mereka memenuhi rongga dadaku yang sesak oleh bahagia, syukur pada-Mu
Ya Allah! Engkaulah penolong satu-satunya ketika semua jalan tampak buntu. Engkaulah cahaya di ujung keputusasaanku.
Tiga laki-laki dalam hidupku aku titipkan mereka di tangan-Mu.
Kelak, jika aku boleh bertemu dengannya, Nabiku, aku ingin sekali berkata:
Ya, Nabi. aku telah mencoba sepenuh daya tenaga untuk mengajak mereka semua menirumu! Amin,
Alhamdulillah
Sumber : Kumpulan cerita Motivasi (resensi.net)
Labels:
Renungan dan Motivasi
ananda sayang
ANANDA SAYANG
Bunda ingin bercerita
tentang masa yg terkenang sepanjang usia
hari2 penuh dgn harapan bahagia
siang mlm tk luput dr usaha dan do'a
Ananda syg
Setelah ibu th ada kehidupan dirahim ini
sujud syukur ibu kepada Ilahi
bunda jaga anugrah ini
untk menjadi wanita sejati
bulan bertambah waktu berlalu
semakin besarlh kau dlm kandungan ibu
sembilan bulan masa penantianku
untk bs menimangmu
Ananda sayang
dimalam purnama dgn chy gemilang
rasa skt tk tertahan
perut melilit tk terelakan
dalam genggaman jemari ayah
bunda terbaring lemah
kepada Tuhan ibu berpasrah
mogj kesabaran segeralah berbuah
senyum mengembang dibibir kami
kau lahir menjadi buah hati
buah cinta orgtua dan Ilahi
hari2 smkin indah
kaulah pelipur segala gelisah
pelepas lelah dan amarah
ketika kau kelaparan
tangisanmu keras menggelegar
jemari ini menxentuhmu penuh kasih
tersalurlah cintaku melalui asi
tatapan binar matamu
msh ibu ingat selalu
dgn memainkan jemari ibu
itu kbiasaanmu ktka menyusu
Ananda sayang
bertmbh thn bertmbh usia
kaupun tlh beranjak remaja
masa kanak2 tlh brlalu
kini kau tk lg bersama ibu
Ananda syg..
Jika bleh ibu berharap
tengoklah ibumu saat kau sempat
ibu ingnkan km wlo skedar menatap
rumah bambu ini
wanita renta ini
sdh tk lg butuh kemewahan duniawi
hanya ingn ananda syg
singgah menyapa bkn cacian
tutur lmbutmu ibu rindukan
hangat pelukmu ibu impikan
ananda syg..
Bukan blz budi
bukan pula berbakti
ibu hny ingn kau fahami
digubuk bambu ini
ada wanita tua yg tk lelah menanti.
sumber
Labels:
opini,
Renungan dan Motivasi
Untuk mu Ukhti Yang Akan Menikah
Thursday, September 6, 2012
Assalamu`alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh
Ukhti… semoga Allah Ta`ala selalu menjagamu dalam ketaatan.
Aku tidak tahu harus berbuat apa yang terbaik ketika aku sadar dengan apa yang terjadi pada sahabatku ukhti Muslimah, aku sadari juga aku bukanlah orang yang tepat untuk berbicara masalah ini, tapi sebagai sahabatmu, inilah risalah untukmu ukhti Muslimah…
Terpikir olehku bagaimana bahagianya orang tua dan keluarga ketika ia melihat hadirnya seorang cucu dari anaknya sendiri, dan semua itu tak akan terjadi tanpa adanya sebuah ikatan suci yang mendahuluinya, yaitu sebuah pernikahan. Sebuah kata yang sakral, yang barangkali tak pernah terpikir sebelumnya bagaimana peliknya, atau bahkan belumlah terpikir bagaimana bahagianya, hidup bersama dengan orang yang begitu kita cintai, teman dan bukan hanya sekedar teman, bahkan ia adalah teman tanpa batas, seorang teman dari lawan jenis yang halal bagi kita.
Mungkin itu hanyalah sebuah pendahuluan yang tak berarti, Karena boleh saja untuk engkau lewati, tapi pasti tadi telah terbaca (-jangan bilang tidak), he he he…
Beralih ke pembicaraan kita …
Rasulullah telah bersabda dalam salah satu haditsnya bahwa seorang
wanita itu dipilih karena empat perkara; namun, yang paling diutamakan
adalah agamanya, kenapa? Karena dengan menikahi wanita yang beragama
niscaya insya Allah hidupnya akan selamat baik itu di dunianya maupun di
akhiratnya, begitu juga dengan wanita tak jauh beda haruslah ia juga
memilih seorang laki-laki yang akan menjadi pendamping hidupnya itu
seorang yang beragama, karena ia adalah akan menjadi pemimpin dalam
sebuah keluarga. Dan yang akan bertanggung jawab di akhirat kelak
tentang bagaimana kepemimpinannya di keluarganya (-karena yang kita
bicarakan di sini adalah tentang itu).
Sekarang aku bertanya: sudah siapkah engkau dengan semua itu?
Ketika ada seorang yang datang kepadamu, apa yang engkau pikirkan? Apa yang engkau inginkan darinya? Kriteria yang bagaimanakah yang engkau dambakan? Apakah semua itu sudah ada padanya?
Kalau engkau pandang bagaimana agamanya, maka itulah yang ahsan, sebaik-baik pilihan. Karena dialah yang akan mendampingimu di dunia maupun di akhirat, insya Allah. Kalau yang engkau inginkan adalah seorang yang bisa menjagamu, menjaga agamamu, manjaga harga dirimu, maka itu juga bukan merupakan pilihan yang salah. Ataukah engkau inginkan seorang yang bisa menafkahimu baik lahir ataukah batin, bisa membahagiakanmu, maka demikianlah yang didambakan oleh setiap wanita. Ok! Kemudian apakah semua itu telah ada padanya?
Hanya dirimu yang bisa menjawabnya. Pikirkanlah.
Menikah… takut? Ragu? Ataukah perasaan apalagi?
Takut dengan orang tua yang nggak mengijinkanmu menikah saat ini?
Ragu apakah akan bisa mendapatkan pekerjaan setelah status menikah?
Ukhti… semoga Allah Ta`ala selalu menolongmu.
Barangkali suatu hal yang wajar ketika halangan untuk menikah adalah dari orang tua kita sendiri, barangkali mereka takut putrinya tidak bisa bekerja untuk membantu suamiya, terkadang yang banyak terjadi adalah perkataan sebagian orang: “Masak sih kami sebagai orang tuamu yang sudah menyekolahkanmu sampai setinggi ini akhirnya hanya menikah tanpa mencari kerja dulu…” Dan mungkin banyak perkataan serupa yang bisa saja keluar dari keluarga kita. Dan… semua itu akan kembali pada sejauh mana kita bisa mendekati mereka, mengajak bicara mereka, menasihati mereka kepada kebaikan dan ketaqwaan.
Ukhti… semoga Allah Ta`ala senantiasa menolongmu.
Berapa kali harus aku katakan, hendaklah kita bersabar dalam mendakwahi mereka…
Sungguh mereka itu adalah belum mengerti dan semoga Allah memberikan kepada kita petunjuk dan hidayah kepada mereka dan kepada kita. Wahai ukhti, berilah mereka pengertian dengan cara yang baik dan nasihat yang menyembuhkan dengan senantiasa berdoa memohon kepada Allah agar diberi kemudahan.
Kalau saja mereka para orang tua dapat berpikiran seperti apa yang kita pikirkan, barangkali pernikahan itu bukanlah sebuah permasalahan, hanya saja, terkadang masing-masing orang mempunyai keunikan sendiri-sendiri, ada yang orang tuanya sudah mengijinkan, justru anaknya belum siap, alasannya macam-macam, ada yang bilang merasa belum mampu untuk menjalaninya (-terus kapan?), ada yang bilang juga gak siap, ada yang bilang… banyak deh! (-tahu kan maksudku?)
Nah, masalah datang ketika kita semakin menunda-nunda pernikahan itu, apalagi bagi seorang wanita, pernah terpikir gak? Bagaimana ketika usia itu semakin bertambah, kita sudah tersibukkan oleh pekerjaan duniawi, sampai-sampai lupa memikirkan tentang menikah, bahkan gak terpikir lagi untuk menikah… aku yakin engkau bukan termasuk tipe ini. Hanya saja, sudahkah niatmu bulat untuk menikah? sudahkah engkau menargetkan di usia berapa akan menikah? Kembali lagi ke pertanyaan di atas, kriteria yang bagaimanakan yang engkau dambakan? Jangan sampai semua itu berlalu sia-sia hanya karena kesibukan dunia semata.
Kemudian untuk artikel pernikahan, atau menuju ke sana, aku gak bisa merujuknya secara tepat; nah, mungkin aku sarankan untuk membaca majalah-majalah seperti Majalah Nikah, Majalah Asy Syariah dalam halaman Sakinah, atau majalah lain yang Islami tentunya banyak engkau jumpai di toko buku atau internet…
Barangkali itu dulu aja yang bisa aku tuliskan, semoga ada manfaatnya bagi kita. Kalau ada benarnya itu datangnya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, adapun jika terdapat banyak salah dan keliru itu datangnya adalah dari kebodohanku dan dangkalnya keilmuanku. Jadi, luangkan waktumu sekedar untuk mengkritisi kata-kataku atau sekedar jawaban dari pernyataan-pernyataanku di atas. Wallahu a’lam.
Jazakillahu khairan atas semuanya semoga Allah memberikan barakahNya kepadamu.
Assalamua`alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.
By: heane.
Ukhti… semoga Allah Ta`ala selalu menjagamu dalam ketaatan.
Aku tidak tahu harus berbuat apa yang terbaik ketika aku sadar dengan apa yang terjadi pada sahabatku ukhti Muslimah, aku sadari juga aku bukanlah orang yang tepat untuk berbicara masalah ini, tapi sebagai sahabatmu, inilah risalah untukmu ukhti Muslimah…
Terpikir olehku bagaimana bahagianya orang tua dan keluarga ketika ia melihat hadirnya seorang cucu dari anaknya sendiri, dan semua itu tak akan terjadi tanpa adanya sebuah ikatan suci yang mendahuluinya, yaitu sebuah pernikahan. Sebuah kata yang sakral, yang barangkali tak pernah terpikir sebelumnya bagaimana peliknya, atau bahkan belumlah terpikir bagaimana bahagianya, hidup bersama dengan orang yang begitu kita cintai, teman dan bukan hanya sekedar teman, bahkan ia adalah teman tanpa batas, seorang teman dari lawan jenis yang halal bagi kita.
Mungkin itu hanyalah sebuah pendahuluan yang tak berarti, Karena boleh saja untuk engkau lewati, tapi pasti tadi telah terbaca (-jangan bilang tidak), he he he…
Beralih ke pembicaraan kita …
![akhwat[1]](http://ayonikah.net/wp-content/uploads/akhwat1.jpg)
Sekarang aku bertanya: sudah siapkah engkau dengan semua itu?
Ketika ada seorang yang datang kepadamu, apa yang engkau pikirkan? Apa yang engkau inginkan darinya? Kriteria yang bagaimanakah yang engkau dambakan? Apakah semua itu sudah ada padanya?
Kalau engkau pandang bagaimana agamanya, maka itulah yang ahsan, sebaik-baik pilihan. Karena dialah yang akan mendampingimu di dunia maupun di akhirat, insya Allah. Kalau yang engkau inginkan adalah seorang yang bisa menjagamu, menjaga agamamu, manjaga harga dirimu, maka itu juga bukan merupakan pilihan yang salah. Ataukah engkau inginkan seorang yang bisa menafkahimu baik lahir ataukah batin, bisa membahagiakanmu, maka demikianlah yang didambakan oleh setiap wanita. Ok! Kemudian apakah semua itu telah ada padanya?
Hanya dirimu yang bisa menjawabnya. Pikirkanlah.
Menikah… takut? Ragu? Ataukah perasaan apalagi?
Takut dengan orang tua yang nggak mengijinkanmu menikah saat ini?
Ragu apakah akan bisa mendapatkan pekerjaan setelah status menikah?
Ukhti… semoga Allah Ta`ala selalu menolongmu.
Barangkali suatu hal yang wajar ketika halangan untuk menikah adalah dari orang tua kita sendiri, barangkali mereka takut putrinya tidak bisa bekerja untuk membantu suamiya, terkadang yang banyak terjadi adalah perkataan sebagian orang: “Masak sih kami sebagai orang tuamu yang sudah menyekolahkanmu sampai setinggi ini akhirnya hanya menikah tanpa mencari kerja dulu…” Dan mungkin banyak perkataan serupa yang bisa saja keluar dari keluarga kita. Dan… semua itu akan kembali pada sejauh mana kita bisa mendekati mereka, mengajak bicara mereka, menasihati mereka kepada kebaikan dan ketaqwaan.
Ukhti… semoga Allah Ta`ala senantiasa menolongmu.
Berapa kali harus aku katakan, hendaklah kita bersabar dalam mendakwahi mereka…
Sungguh mereka itu adalah belum mengerti dan semoga Allah memberikan kepada kita petunjuk dan hidayah kepada mereka dan kepada kita. Wahai ukhti, berilah mereka pengertian dengan cara yang baik dan nasihat yang menyembuhkan dengan senantiasa berdoa memohon kepada Allah agar diberi kemudahan.
Kalau saja mereka para orang tua dapat berpikiran seperti apa yang kita pikirkan, barangkali pernikahan itu bukanlah sebuah permasalahan, hanya saja, terkadang masing-masing orang mempunyai keunikan sendiri-sendiri, ada yang orang tuanya sudah mengijinkan, justru anaknya belum siap, alasannya macam-macam, ada yang bilang merasa belum mampu untuk menjalaninya (-terus kapan?), ada yang bilang juga gak siap, ada yang bilang… banyak deh! (-tahu kan maksudku?)
Nah, masalah datang ketika kita semakin menunda-nunda pernikahan itu, apalagi bagi seorang wanita, pernah terpikir gak? Bagaimana ketika usia itu semakin bertambah, kita sudah tersibukkan oleh pekerjaan duniawi, sampai-sampai lupa memikirkan tentang menikah, bahkan gak terpikir lagi untuk menikah… aku yakin engkau bukan termasuk tipe ini. Hanya saja, sudahkah niatmu bulat untuk menikah? sudahkah engkau menargetkan di usia berapa akan menikah? Kembali lagi ke pertanyaan di atas, kriteria yang bagaimanakan yang engkau dambakan? Jangan sampai semua itu berlalu sia-sia hanya karena kesibukan dunia semata.
Kemudian untuk artikel pernikahan, atau menuju ke sana, aku gak bisa merujuknya secara tepat; nah, mungkin aku sarankan untuk membaca majalah-majalah seperti Majalah Nikah, Majalah Asy Syariah dalam halaman Sakinah, atau majalah lain yang Islami tentunya banyak engkau jumpai di toko buku atau internet…
Barangkali itu dulu aja yang bisa aku tuliskan, semoga ada manfaatnya bagi kita. Kalau ada benarnya itu datangnya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, adapun jika terdapat banyak salah dan keliru itu datangnya adalah dari kebodohanku dan dangkalnya keilmuanku. Jadi, luangkan waktumu sekedar untuk mengkritisi kata-kataku atau sekedar jawaban dari pernyataan-pernyataanku di atas. Wallahu a’lam.
Jazakillahu khairan atas semuanya semoga Allah memberikan barakahNya kepadamu.
Assalamua`alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.
By: heane.
Labels:
opini,
Renungan dan Motivasi
Manfaat Daun Sirsak untuk kesehatan
Manfaat daun sirsak bagi yang belum tahu sebaiknya
baca informasi berikut ini tanpa terlewatkan sedikitpun. Pasalnya, daun
dari buah berwarna putih, memiliki biji, dan mempunyai duri tersebut
banyak memilki manfaat yang baik bagi tubuh. Hampir setiap bagian dari
pohon sirsak ini punya khasiat beragam. Bahkan menurut beberapa
peneliti, menemukan sebuah kandungan zat yang dapat menetralisir kanker
dalam tubuh.
Setiap daerah di Indonesia memiliki sebutan sendiri untuk Buah yang bernama latin Annona muricata L ini berasal dari Karibia, Amerika tengah, dan Amerika selatan. Misalnya seperti orang jawa yang menyebut sirsak sebagai nongko londo, nangka buris sebutan oleh orang Madura, dan srikaya jawa sebutan untuk sirsak bagi orang Bali. Apapun namanya yang penting buah ini memiliki khasiat berbagai ragam. Bahkan, manfaat daun sirsak banyak dijadikan sebagai obat alternati bagi penyakit dalam tubuh.
Pada umumnya orang menanam pohon sirsak untuk dijual buahnya sehingga daun sirsak sendiri belum ada yang memanfaatkan. Entah siap penemu manfaat daun sirsak kami sendiri juga belum mengetahuinya tapi sudah banyak obat – obatan yang menggunakan bahan dasar daun sirsak sebagai andalan. Tanaman yang diambil daging buahnya untuk di komersialkan ini dapat tumbuh di berbagai macam daerah. Tapi akan lebih baik bila penanaman dilakukan di daerah dengan jangkauan air mencukupi. Sebenarnya nama sirsak itu sendiri berasal dari bahasa belanda Zuurzak, berhubung lidah orang Indonesia kurang fasih maka menyebutnya dengan Sirsak. Itulah sedikti pembukaan untuk artikel yang kami beri judul Manfaat Daun Sirsak.
Setiap daerah di Indonesia memiliki sebutan sendiri untuk Buah yang bernama latin Annona muricata L ini berasal dari Karibia, Amerika tengah, dan Amerika selatan. Misalnya seperti orang jawa yang menyebut sirsak sebagai nongko londo, nangka buris sebutan oleh orang Madura, dan srikaya jawa sebutan untuk sirsak bagi orang Bali. Apapun namanya yang penting buah ini memiliki khasiat berbagai ragam. Bahkan, manfaat daun sirsak banyak dijadikan sebagai obat alternati bagi penyakit dalam tubuh.
Pada umumnya orang menanam pohon sirsak untuk dijual buahnya sehingga daun sirsak sendiri belum ada yang memanfaatkan. Entah siap penemu manfaat daun sirsak kami sendiri juga belum mengetahuinya tapi sudah banyak obat – obatan yang menggunakan bahan dasar daun sirsak sebagai andalan. Tanaman yang diambil daging buahnya untuk di komersialkan ini dapat tumbuh di berbagai macam daerah. Tapi akan lebih baik bila penanaman dilakukan di daerah dengan jangkauan air mencukupi. Sebenarnya nama sirsak itu sendiri berasal dari bahasa belanda Zuurzak, berhubung lidah orang Indonesia kurang fasih maka menyebutnya dengan Sirsak. Itulah sedikti pembukaan untuk artikel yang kami beri judul Manfaat Daun Sirsak.
Manfaat Daun Sirsak Sebagai obat kanker
Bagi pengidap penyakit kanker terutama yang tidak memiliki biaya besar untuk berobat kini Anda tak perlu galau. Saat ini telah banyak sekali yang memberikan klaim bila daun sirsak memiliki manfaat yang dapat menyembuhkan dan mengurangi kanker pada tubuh Anda. Sangat berguna bagi orang yang sudah bertahun – tahun berobat ke berbagai macam dokter tapi tak kunjung sembuh layak mencoba ramuan dari daun sirsak. Manfaat daun sirsak sudah diuji secara klinis oleh beberapa pakar dunia. Bahkan banyak juga dunia medis yang menggunakan ekstrak daun sirsak dan mengubahnya kedalam bentuk pil maupun capsul. Bagi yang tidak punya dana untuk menebus obat dari ekstrak daun sirsak atau ingin menghemat pengeluaran cobalah cara berikut ini :- Carilah dan ambil 20 lembar daun sirsak setelah itu cuci hingga bersih dari kotoran serta debu yang menempel.
- Masak menggunakan air bersih sebanyak 5 gelas, masukkan kedalam wadah, masaklah hingga mendidih sampai tersisa hanya 3 gelas.
- Minumlah air rebusan tadi selama 3 x 1 secara rutin, sampai kanker berkurang dan sembuh.
Manfaat Daun Sirsak Untuk Penderita Asam urat ( Rematik )
Umumnya orang yang sudah berusia 30 – 40 tahun keatas banyak yang mengeluhkan asam urat atau flu tulang. Penyakit ini sebenarnya dapat diatasi dengan mudah bila kita telaten dalam mengobatinya. Tapi kebanyakan orang saat ini ingin yang instan dan cepat sembuh dengan mengkonsumsi obat – obatan berjenis steroid yang menyebabkan ketergantungan dan malah memperparah keadaan. Padahal bila kita jeli dan mau bersabar disekitar kita sudah disediakan obat – obatan alami yang tumbuh dari alam. Salah satunya adalah daun sirsak yang dipercaya pada menyembuhkan penyakit termasuk asam urat. Mau tau bagaimana cara mengolah manfaat daun sirsak ? Baca tutorial dibawah ini :Manfaat Daun Sirsak Menurunkan Kadar Asam Urat
- Seperti diatas, ambilah daun sirsak kemdian di rebus dengan air sampai mendidih
- Rebusan air biarkan hangat atau dingin dulu kemudian diminum secara teratur.
- Insya Allah kadar asam urat berangsur turun sehingga dapat mengurangi nyeri asam urat.
Manfaat Daun Sirsak Mengobati Eksim Rematik
- Carilah daun sirsak jika sudah dapat tumbuk sampai halus kemudian tempet pada bagian yang sakit
- Selain mudah dicari daun sirsak cukup ampuh dan murah untuk mengobati berbagai macam penyakit.
Khusus bagi penderita asam urat sebaiknya jangan makan makanan yang
dapat menyebabkan penyakit kambuh. Sebaiknya rubah pola hidup Anda
menjadi lebih sehat. Misalnya seperti makan teratur, kurangi begadang,
berhenti minum alkohol atau softdrink, dan berhenti merokok. Karena
semua aktivitas tersebut dapat memperparah kondisi tubuh Anda. Selain
itu banyaklah membaca dari berbagai literatur agar penyakit yang Anda
alami saat ini lekas sembuh.
Ada beberapa makanan yang dapat menyebabkan asam urat kambuh tapi
belum tentu terjadi pada beberapa orang karena tingkat respon tubuh
terhadap makanan ini berbeda – beda. Seperti emping melinjo,
kacang-kacangan, jamur, bayam, sawi, daging kambing, jeroan atau gajih,
kerang, bebek, dan salmon. Semoga artikel tentang MANFAAT DAUN SIRSAK yang kami buat diatas dapat memberikan pencerahan bagi kita semua.
source : http://www.ruame.com/manfaat-daun-sirsak/
Labels:
Inspirasi Sehat
Subscribe to:
Posts (Atom)






