Halo Prends! |
Pasang Iklan | Kontak | Profile | Sitemap

Pegal dan Linu Pada Sendi , Jangan Anggap Remeh

Wednesday, May 9, 2012

Lintaskan !
Sebagian orang menganggap rasa pegal atau linu pada persendian tulang adalah penyakit biasa. Gangguan pada tulang yang sering juga disebut radang sendi atau osteoartritis ini kerap pula disangka sebagai gejala rematik biasa, yang dapat disembuhkan dengan obat antirematik.
Namun, tahukah Anda bahwa radang di persendian, terutama sendi-sendi kecil di daerah tangan, merupakan gejala awal Artritis Rematoid (AR). Ini bukanlah penyakit osteoartritis, tapi salah satu bentuk paling umum dari penyakit autoimun. Artinya, penyakit ini timbul karena sistem kekebalan tubuh yang sejatinya bekerja melindungi malah berbalik menyerang tubuh manusia sendiri. Bahkan, penyakit ini bersifat sistemik.
Pemicunya adalah peradangan kronis di sendi, sakit dan kelelahan. "Hal ini terjadi karena interleukin 6 (IL-6) yang berguna untuk melindungi tubuh terlalu banyak jumlahnya dan terlalu aktif," kata Handono Kalim, Ketua Indonesian Rheumatology Association (IRA). Interlikuin 6 semacam protein di tubuh yang mengaktifkan sel-sel kekebalan tubuh dan memicu reaksi autoimun.
Jika senyawa protein ini mengikat reseptor IL-6 yang larut dalam darah maka sel-sel inflamasi atau peradangan akan aktif. Otomatis, kondisi ini memperluas dampak autoimun. Radang sendi akan menjalar dari tangan hingga ke leher dan rahang.
Penderita AR dapat merasakan nyeri hebat dan kaku di sekujur tubuhnya, yang berujung tidak bisa berjalan atau menggerakkan tangannya. "Jika sudah parah, penderita AR dapat cacat seumur hidup," kata Handono.
Menurut Ekowati Rahajeng, Direktur Penyakit Tidak Menular Direktorat Jenderal Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan, banyak orang yang menderita AR sebagai nyeri sendi biasa. Karena itu, mereka tidak mencari pengobatan yang tepat hingga menjadi parah. "Ini karena minim pengetahuan," ujarnya.
Rentan bagi usia produktif
Penderita AR memang belum banyak. Menurut penelitian di Inggris yang dikutip dari situs patients.co.uk, ada sekitar 21 juta orang di dunia yang mengidap penyakit ini. Penyebab pastinya belum diketahui.
Yang jelas, menurut Handono, penyebab penyakit ini bisa bersifat genetis atau keturunan dan hormon. Sebab, terkait dengan sistem kekebalan tubuh. Nah, wanita berisiko dua kali lebih besar terkena penyakit AR karena hormon pemicunya adalah estrogen.
Pemicu lainnya adalah zat kimia dalam tubuh dan faktor lingkungan. "Makanan berbahan pengawet hingga silikon bisa memicu AR," katanya.
Kalau osteoporosis menyerang orang berusia lanjut, AR juga dapat menyerang orang muda. "AR bisa menyerang pada saat usia produktif antara 35 dan 50 tahun," kata Handono. Masalahnya, belum jelas mengapa penyakit ini tak hanya menyerang orang berusia tua.
Perkembangan penyakit ini bisa sebentar, misalnya sekitar dua bulan, tapi juga dapat berlangsung lama. Dalam penelitian yang dilakukan Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan Artritis Research Campaign tahun 2002 ditemukan bahwa 40% penderita AR di negara maju tidak mampu lagi bekerja full time selama lima tahun.
Karena itu, Handono menganjurkan perlu adanya deteksi awal ke dokter jika seseorang mengalami peradangan sendi. Terutama, peradangan di tangan atau sendi-sendi kecil, badan kaku, rasa nyeri, dan anemia. "Jika terlambat dua bulan saja bisa menyebabkan cacat dan pengobatannya akan berbeda serta lebih sulit," katanya.
Sumber Harian KONTAN, 17 April 2012

Artikel Terkait :

Widget by [ inspirasiku-iq ]

0 comments:

Post a Comment